Selasa, 14 Februari 2012

Selamat jalan Whitney...

Begitu banyak talenta wanita bersuara luar biasa di dunia ini. Sebut saja Barbra Streisand, Aretha Franklin, Dionne Warwick, Diana Ross, Celine Dion, Mariah Carey dan banyak lainnya, namun ada satu nama yang akan selalu membuat dunia mencintainya apapun yang terjadi.


1988, seorang anak terkesima mendengarkan sebuah lagu yang mampu membuatnya menangis di usianya yang ke-9. Anak itu mendengarkan sebuah lagu yang menjadi theme song olimpiade di seoul tahun itu. Dan sejak saat itu si anak kecil ini membayangkan dapat memainkan lagu ini pada sebuah piano.

Hingga tiba di suatu siang, mengendap-endap di ruang keluarga dan memastikan pintu tertutup tak ada orang, si anak kecil tersebut mengambil kardus furniture kosong berbentuk persegi panjang dan membayangkannya menjadi sebuah piano dan memainkan kardus tersebut seakan kardus itu piano sambil menyanyikan lagu theme song olimpiade tersebut. Dia tak sadar ada pamannya yang tak sengaja melewati ruang keluarga dan melihat keponakannya. Dan si anak kecil itu terkejut ketika si paman membuka pintu, melihat dan kemudian pergi. Si anak kecil hanya bisa merasa malu.

Namun sore hari di hari itu juga, ternyata si paman yang kasihan melihat keponakannya langsung mengajak si anak kecil ke kumbo, glodok dan membelikannya sebuah kejutan. Sebuah keyboard kecil. Dan begitu tiba di rumah, si anak kecil ini yang memang sudah lama tergila-gila dengan piano entah mengapa langsung bisa memainkannya. Dan lagu pertamanya adalah theme song olimpiade tersebut.

I broke my heart, fought every gain.
To taste the sweet, I face the pain.
I rise and fall
Yet through it all
This much remains

I want one moment in time
When I’m more than I thought I could be
When all of my dreams are a heartbeat away
And the answers are all up to me


Judul lagu itu adalah One moment in time dan nama penyanyinya adalah Whitney Houston dan sejak saat itu, Whitney Houston menjadi bagian tak terpisahkan dari si anak kecil itu. Anak kecil tersebut pun tumbuh mendengarkan lagu Whitney Houston. Anak kecil itu adalah saya, yang mengidolakan Whitney sejak mendengarkan lagu one moment in time tersebut.

Setiap karyanya luar biasa dan kita bisa merasakan dia bernyanyi dari lubuk hatinya yang terdalam, suaranya begitu indah melantunkan setiap nada membuat yang mendengakan merinding dan terlarut, tak bisa berpaling. Bahkan di saat kehancuran Whitney karena KDRT dan drugs, sang anak tetap mengidolakannya terlepas dari semua pemberitaan negatif tentang idolanya.

The great voice world has ever had, indeed. Hingga 12 Februari 2012, seketika hati sang anak kecil tersebut hancur mengetahui sang idolanya berpulang. Dia begitu terpukul dan tak bisa berkata apa-apa selain menangis. Hancur hatinya dan harapan suatu hari bisa melihat langsung idolanya menyanyi takkan pernah tercapai, dan yang lebih menghancurkan lagi adalah berita tentang rencana konser Whitney. Kini semua hanya tinggal impian.

Luar biasa memang pengaruh musik dalam hidup seseorang. Meskipun belum pernah bertemu, namun lewat suaranya yang indah seakan terasa dekat.

Terima kasih Whitney yang telah mengajariku menjalani hidup dengan berjuang tanpa kenal lelah.
Terima kasih Whitney karenamu aku mendapatkan kesempatan dibelikan keyboard dan akhirnya di tahun 1989, sebuah piano dibelikan untukku oleh pamanku dan lewat piano itu, lagu-lagumu kumainkan menemaniku hingga kini.
Terima kasih Whitney atas semua karyamu yang telah menemaniku di hampir 33 tahun kehidupanku ini.
Terima kasih Whitney atas semua cinta yang telah kau berikan di setiap lagu.
Terima kasih atas segalanya...

I decided long ago, never to walk in anyone’s shadows.
If I fail, if I succeed, at least I live as I believe.
No matter what they take from me,
They can’t take away my dignity!


Dan ya, apapun yang terjadi dikau tetap tegar menghadapi hidup. Lesson learned Whitney...thank you.

Selamat jalan Whitney, dirimu akan selalu hidup dalam hatiku dan hati setiap orang melalui lagu-lagumu dan akan selalu menemani hingga akhir waktu memanggil.

Seperti yang dikau katakan "a moment in the soul can last forever" dan ya, namamu akan selalu ada di hatiku yang terdalam...selamanya.

Seseorang di sini takkan melupakanmu dan apa yang telah kau lakukan untuk hidupnya. I'll be forever grateful

I will, WE will always love you...

Like the last song (they said) u sang the night before you leave
Yes Jesus loves me
Oh, yes Jesus loves me
Yes Jesus loves me for the Bible tells me so


May you find your peace up there...until one day we meet again and hopefully i can hear your angelic voice.

Jesus love you Whitney... Thank you Jesus for sending ur angel Whitney.


Terima kasih Obi,Omaay dan Saras yang telah menguatkanku...










Sabtu, 31 Desember 2011

Another time, another year passing by

Sebentar lagi tahun 2011 akan berganti dan semakin banyak kenangan yang akan terekam di hati.

It's been a great year, despite all the hectics and troubles but i got a lot of surpises that made this year wonderful.

Dan hanya bisa berharap tahun 2012 akan menjadi tahun yang indah yang penuh kenangan indah juga.

Mengejar David Becham (Part.2-End)

Setelah selesai conference dan bertemu bang Hasani Abdulgani langsung saya, Omaay dan Alsep menyusul Louis dan Lenny yang sudah menunggu di coffee shop. Dan akhirnya setelah berbincang,Omaay memutuskan kembali dan tak lama Alsep juga kembali(setelah berfoto dengan Syahrini hahaha).

Kami kemudian pun pindah ke cafe di sana yang kami pikir akan didatangi untuk makan malam oleh Becks. Dan saya, berbekal uang pas-pasan dan belum makan siang hingga malam memutuskan untuk kembali memesan teh (kali ini jasmine, saya lupa yang saya pesan di coffeshop)tapi thank God kali ini ada biskuitnya hehehee...dan ketika saya ke toilet bersama Lenny dan kembali ke cafe, ternyata para Louis dan Fleming serta temannya mendapatkan foto bersama Robbie Keane dan ada Becks yang bersembunyi dan lari.

Malam berlalu tanpa hasil dan hanya sempat berbincang dengan bodyguad Becks dan mereka hanya "lip service" menjanjkan bisa berfoto. Akhirnya kami pada kurang lebih jam 23.30 dan mendapatkan kabar David sedang keluar hotel memenuhi undangan makan yang kami asumsi dari kedubes inggris.

Esok pagi pukul 6.00 kami sudah berkumpul dan setelah menunggu lama akhirnya Fleming dan temannya memutuskan pulang di jam 9.30 dan hanya saya dan Louis yang bertahan. Tak disangka pukul 10.30 muncul David berjalan dengan Keane dan bodyguardnya yang sedang memberikan instruksi kepada keamanan. Dan perlahan saya pun mendekatinya dan menegurnya, namun bodyguardnya langsung menghalangi. Dan aku pun menunggu lagi dengan Louis sampai dia selesai sarapan dan tapi kali ini David langsung diungsikan ke tanggal dan aku sempat berlari mengejar dan bertanya "David, may i take a picture with you?" dan dijawab dengan ramah sambil tersenyum "i must go downstair" dan dia melambaikan tangan sambil tersenyum lagi. Kaki rasanya tak kuat melihat senyumnya dan jantung berdebar tak karuan tapi ya, akhirnya kita tak bisa mendapatkan tanda tangan dan foto bersamanya tapi at least saya sudah melihat dari dekat dan sempat bertukar kata-kata dan mendengarkan suaranya.

Satu hal yang saya pelajar adalah : kita tidak bisa selalu mendapatkan yang kita inginkan, namun semua perjuangan dan kenangan indah itu biarlah terekam di hati yang terdalam.

Dan seperti kata Whitney Houston "A moment in the soul can last forever" dan seperti itulah kenangan saya.

I love you David!






Selasa, 29 November 2011

Mengejar David Beckham (Part.1)


Berita David Beckham yang datang bersama LA Galaxy dalam lawatan Asia Pasifiknya tentunya sebuah kabar yang membahagiakan bagi para penggemar United, tak terkecuali saya. Namun tentunya semua niat ingin bertemu, foto dan meminta tanda tangannya adalah semua misi yang berat karena pihak penyelenggara telah memastikan Becks akan mendapatkan pengawalan ketat.

Tentunya saya tak kehilangan semangat, tak ada yang tak mungkin untuk dapat melihat dan bertemu dengan pahlawan saya, pemain yang sangat saya kagumi. Berbagai informasi dan rencana telah disiapkan. Untuk penjemputan pun berita simpang siur dari mendarat dengan pesawat pribadi hingga akhirnya David mendarat dengan SQ tanggal 28 November pukul 08.30 pagi. Sayang saya tak dapat ke bandara untuk menjemput. Tapi, sore harinya saya sudah merencanakan akan ke Ritz, tempat menginap David dan tim Galaxy.

Tiba-tiba saya mendapat kabar akan ada press conference di Ritz dan langsung panic dan melihat jam di kantor dan langsung mengkontak teman-teman dan mereka mensupport saya untuk hadir. Jam 3 sore, dan tak mungkin saya hadir tepat waktu. Yang terdekat dan membawa kamera dan saya tahu beliau sangat mengagumi David adalah mbak Aya. Omaay (panggilannya) langsung hadir dan bahkan tiba lebih dulu daripada saya yang mengurusi kartu pers United Indonesia.

Tiba di sana, kami tak dapat masuk dan akhirnya dengan “keajaiban” kami dapat mengikuti prescon tersebut dan jujur saja begitu melihat David memasuki ruangan dengan senyumnya, kaki saya langsung terasa lemas, seakan tak ada tenaga dan detak jantung saya rasakan tak menentu. Ingin rasanya tangan menekan tombol memotret di kamera tapi tenaga seakan tak ada. Saya baru sadar saya hanya bisa bengong dengan tangan di atas memegang kamera dan tak melakukan apapun ketika ada seorang wartawan yang memanggil saya dan bertanya “mbak mau saya bantu foto?” sedangkan Omaay ada di deretan depan saya mengambil foto dengan terkagum-kagum juga.

Menjelang akhir dan barisan wartawan merenggang, saya berhasil meringsek hingga ke barisan depan dan benar-benar melihat David dari depan dan perasaan saya bertambah tak menentu. Bahkan saya tak berpikir untuk memotretnya, bodohnya saya! Hanya bisa berdiri dengan kaki lemas dan bahkan gemetar melihat David dan selintas sempat terpikir menyerobot masuk namun saya urungkan karena tak ingin nama United Indonesia jadi tercemar oleh perbuatan saya.

Ruangan prescon menjadi saksi indah pertemuan pertama saya dengan David dan tiba-tiba air mata saya tanpa saya sadari terjatuh dan hal berikut yang saya sadari adalah saya menangis. Dan yang bisa saya lakukan adalah memeluk Omaay. Dan saya tak sadar, Jaka menyadari kalau saya menangis jika saja dia tidak mengirimkan BBM pada saya.

Selesai prescon, kamipun ingin menitipkan kaos member dan scarf United Indonesia kepada David via Mahaka melalui Bang Hasani, namun beliau mengatakan tidak bisa menjanjikan apa-apa dan tak ingin mengecewakan kami. Jadi kami harus fight sendiri. Akhirnya kami keluar dari prescon dan membahas rencana berikutnya.

Rabu, 09 November 2011

Jika...

Jika indahmu tergapai tuk kumiliki
mengapa harus kunanti waktu
yang mengajakku menjauhi pelukanmu
...


inspired by:nitz

Selasa, 08 November 2011

Salahkan sang rembulan

Hembusan angin malam menyapa lewat jendela
menyapaku yang menatap dari balik tirai...
lesu dilanda rindu

Salahkan senyum sang rembulan
mengapa yang tergambar di hati ini wajahmu
salahkan sang rembulan
mengapa sinarnya begitu indah
mengingatkanku pada senyummu




inspired by: omaay

Sabtu, 05 November 2011

SAF-25Years : A league of his own

Ketika kamu menghitung semua dan bertanya apa yang telah diraih dan dicapai oleh seorang Sir Alex Ferguson, tentu takkan mudah mendeskripsikannya satu persatu. Saya menemukan kesulitan untuk menghitung semua pencapaiannya yang luar biasa di 25 tahun keberadaannya di United.

SEMPURNA - adalah kata yang yang kurasa dapat merangkumnya walaupun tentunya tak ada yang sempurna di dunia ini. Melihat kembali ke belakang bagaimana Sir Alex yang sempat hampir dipecat namun bisa membalikkan keadaan dan lihat sekarang(serta hitunglah semua trophy dan prestasinya bersama United), itu akan membuatmu terkejut dan kagum secara bersamaan dan juga bertanya bagaimana dia bisa melakukannya.

Sir Alex tidak berusaha menjadi orang lain, dia menjadi dirinya sendiri dan menaruh target tinggi dalam setiap yang dia lakukan. Dan jangan lupakan "pedasnya" kata-katanya namun berhasil membuat kita pendukung United berkata gila dan tertawa.

"That lad must have been born offside." - salah satu quote favorit Sir Alex ditujukan kepada Fillipo Inzaghi yang membuat saya tertawa dan makin jatuh cinta dengannya.

"They say he's an intelligent man, right? Speaks five languages. I've got a 15-year-old boy from the Ivory Coast who speaks five languages!" - untuk Arsene Wenger

"He was certainly full of it, calling me boss and big man when we had our post-match drink after the first leg. But it would help if his greetings were accompanied by a decent glass of wine. What he gave me was paint-stripper." - Untuk Jose Mourinho

"I think he was an angry man. He must have been disturbed for some reason. I think you have got to cut through the venom of it and hopefully he'll reflect and understand what he said was absolutely ridiculous." - On Rafael Benítez, reacting to the Spaniard's infamous 'facts' press conference

dan tentu saja takkan adil jika tidak memasukkan quote SAF ini :

On whether Liverpool would win the title in 2007 "You must be joking. Do I look as if I'm a masochist ready to cut myself? How does relegation sound instead?"


:))))))) Ya, itu adalah Sir Alex yang kita kenal!

25 tahun dalam sebuah pusaran cepat industri global seperti Liga Inggris tentu tidak mudah dan tentu akan tercatat sebagai "pencapaian yang tidak bisa diraih oleh semua orang". Dan Sir Alex telah memberikan yang terbaik dari dirinya dan semua yang dimiliki olehnya untuk United. Seakan seperti janji setia pernikahan, itulah yang dilakukan oleh Sir Alex. Tak ada yang lain, hanya United.

Juara demi juara, prestasi demi prestasi, rekor demi rekor dan masih berlanjut...
Kata tak dapat menggambarkan...
25 tahun...untuk semua cinta,kenangan dan pencapaian yang kau berikan...
Untukmu Sir Alex, bersulang!